• gambar
  • gambar
  • gerbang
  • MOTO
  • hab ke74

Selamat Datang di Website MTS NEGERI 1 BATAM | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Kontak Kami


MTS NEGERI 1 BATAM

NPSN : 40503215

Jalan Golden Prawn, Bengkong Laut Telp : 0778-411437 Batam


mtsnbatam1@gmail.com | info@mtsn1batam.sch.id

TLP : 0778-411437


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus deh
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 35528
Pengunjung : 13291
Hari ini : 29
Hits hari ini : 82
Member Online : 1
IP : 3.233.239.102
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Abu Bakar Sidiq, S.Pd., MNLP. (Guru)
    2019-06-21 09:51:26

    tes status
  • Yunus Supardi, S.Pdi., M.SI. (Admin)
    2019-06-21 09:42:41

    oke
  • Abu Bakar Sidiq, S.Pd., MNLP. (Guru)
    2019-06-21 09:39:25

    LAgi Senang

MUKJIZAT ILMIAH ALQUR’AN




Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam dan menjadi petunjuk bagi umat manusia. Al Qur’an adalah sebuah kitab yang paling banyak dibaca manusia di belahan dunia, bahkan golongan jin pun ikut membacanya. Kewajiban bagi seorang muslim terhadap al Qur’an adalah membaca kemudian mengkajinya, memahaminya dan selanjutnya mengamalkan dalam sendi-sendi kehidupan. Al Qur’an bagi kalangan ilmuwan merupakan sumber ispirasi dan sumber ilmu pengetahuan. Di antaranya yang terdapat dalam Q.S. ar Rahman ayat 19-25.

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara   keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.  Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?  Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Paa ayat 19-20 dijelaskan bahwa Allah swt mengalirkan dengan bebas dua lautan secara berdampingan, yang satu tawar lezat dan yang lain sangat asin lagi pahit lalu kedua lautan itu ada pembatas yang diciptakan Allah sehingga keduanya tidak saling melampaui yakni bercampur atau melampaui batas yang ditetapkan Allah dan tidak juga membinasakan manusia (Quraish Shihab: 2009).

Mayoritas ulama tafsir berpendapat bahwa batas yang memisahkan dua laut yang disebutkan dalam ayat ini adalah pembatas yang berasal dari kekuasaan Allah swt yang tidak bisa dilihat. Pendapat ini misalnya menurut imam al-Biqai’ Qurthubi, Zamakhsari.  Pada dekade empat puluhan di abad ke-20 para ilmuwan menemukan bahwa masing-masing laut itu ternyata berbeda-beda dalam hal sususunan, komposisi dan ciri-ciri khususnya. Hal ini baru ditemukan setelah peneliti mendirikan stasiun-stasiun laut untuk meneliti sampel air laut. Para peneliti menemukaan adanya batas-batas air yang memisahkan antara laut satu dengan laut lainnya. Batas-batas itu karena adanya perbedaan temperatur, salinitas (tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air) dan densitasnya (kerapatan) sendiri. Laut Tengah yang hangat dan berkadar garam tinggi bertemu dengan Samudera Atlantik yang berair dingin dan densitasnya lebih rendah. Pertemuan dua lautan ada di selat Gibaltar (dalam bahasa Arab dikenal dengan Jabal al-ariq), sebagaimana sebuah informasi yang pernah dimuat di koran Republika, 12 September 2008. Salah satu keajaiban alam yang tersebut dalam Alquran ada di Selat Gibraltar. Air laut yang berkarakter berbeda tidak dapat bercampur, meski bertemu, sehingga membentuk garis lurus yang membentang panjang seakan membelah air laut. Keajaiban itulah yang membuat Selat Gibraltar (dalam bahasa Spanyol: Estrecho de Gibraltar) menjadi sangat istimewa. Selat tersebut memang merupakan bertemunya dua laut yang berbeda, yakni Samudra Atlantik dan Laut Mediteranian, yang memang karakter air yang berlainan. Perbedaan itu terlihat jelas dari warna air laut yang ada di selat tersebut. Ada bagian air laut yang berwarna biru gelap, sedangkan yang lainnya berwarna biru terang. Ajaibnya, keduanya tidak dapat bercampur begitu saja, meskipun sama-sama air laut, dan bertemu di Selat Gibraltar. Di selat itu terlihat sebuah garis yang membentang cukup panjang. `Garis' tersebut adalah garis pembatas yang memisahkan warna biru tua dan biru muda.

Pada ayat 22 menurut sebagaian ahli tafsir, mutiara hanya datang dari air laut. Misalnya Jalaluddin al-Suyuti menyebutkan mutiara dan marjan (mutiara berwarna merah) keluar dari pertemuan di antara keduanya, yakni dari bagian yang airnya asin. Penelitian ilmiah membuktikan kebenaran adanya mutiara yang ditemukan di laut (air asin) dan sungai (air tawar).

Setelah ayat-ayat di atas berbicara tentang keunikan isi laut maka ayat 24 berbicara tentang keunikan laut itu sendiri. Lautan, merupakan karunia Allah  terakhir dari karunia yang telah disebutkan dalam ayat-ayat  terdahulu. Bahtera-bahtera yang dinyatakan milik Allah (walaupun yang membuatnya manusia) bukan saja karena bahan pembuatannya adalah bahan mentah yang diciptakan Allah, atau karena Allah yang mengilhami manusia membuatnya, tetapi juga karena Allah yang menciptakan hukum-hukum alam yang memungkinkan bahtera-bahtera itu dapat berlayar di tengah lautan. Penyebutan karunia Allah diikuti dengan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Ini merupakan salah satu cara untuk mengingatkan betapa pentingnya urusan tersebut.

Bagi ilmuwan yang konsen dengan laut dan  isinya ayat ini menjadi spirit unuk pengembangan keilmuan tentang kelautan, apalagi wilayah Indonesia dua pertiganya adalah lautan walaupun saat ini sudah berkurang karena adanya reklamasi.  Kajian tafsir al Qur’an sangat menarik jika disandingkan dengan pengetahuan tentang penemuan ilmiah. Sudah saatnya dibangkitkan kembali era kejayaan Islam, yang mana al Qur’an sebagai basic  keilmuan dan ditingkatkan kajian-kajian tentang penemuan ilmiah. Dengan perpaduan ini akan semakin menumbuhkan minat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang dilandasi dengan pemahaman al Qur’an yang memadai. Sehingga bicara tentang keimanan tidak hanya wilayah metafisik tetapi bisa dibuktikan dengan kajian ilmiah. Sehingga hal ini dapat meningkatkan keimanan hati setelah seseorang menemukan dan merasakan sendiri dari hasil penemuannya. Diharapkan pada masa depan di Indonesia lahir ilmuwan-ilmuwan yang berwawasan qurani atau ahli-ahli tafsir yang berwawasan ilmiah. Era kejayaan Islam tidak lagi menjadi nostalgia masa lalu tapi menjadi harapan di masa depan.Aamiin.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas