• gambar
  • gambar
  • gerbang
  • MOTO

Selamat Datang di Website MTS NEGERI 1 BATAM | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Kontak Kami


MTS NEGERI 1 BATAM

NPSN : 40503215

Jalan Golden Prawn, Bengkong Laut Telp : 0778-411437 Batam


mtsnbatam1@gmail.com | info@mtsn1batam.sch.id

TLP : 0778-411437


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus deh
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 9655
Pengunjung : 3244
Hari ini : 5
Hits hari ini : 24
Member Online : 1
IP : 34.226.234.20
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Abu Bakar Sidiq, S.Pd., MNLP. (Guru)
    2019-06-21 09:51:26

    tes status
  • Yunus Supardi, S.Pdi., M.SI. (Admin)
    2019-06-21 09:42:41

    oke
  • Abu Bakar Sidiq, S.Pd., MNLP. (Guru)
    2019-06-21 09:39:25

    LAgi Senang

BAHASA MEDSOS, DIMENSI PENDIDIKAN KARAKTER




 Fatimatuz Zahro, S.Ag., M.Pd.I.

Guru MTs N 1 Batam

Pengajar Rumah Tahfizh Baitul Qur’an  Batam

 

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan satu dengan yang lain. Antara individu satu bergantung dengan individu lainnya. Sehebat apapun, sekaya apapun manusia tidak mampu hidup sendiri, semuanya saling membutuhkan. Si kaya membutuhkan si miskin dan si miskin membutuhkan si kaya. Orang disebut kaya karena ada yang miskin. Dalam interaksi satu dengan yang lainnya dibutuhkan sebuah komunikasi. Komunikasi yang baik mampu menjadikan pesan tersampaikan dengan jelas.

Saat ini manusia hidup dalam era digital. Dalam hitungan detik sebuah pesan yang ditulis langsung tersebar ke seluruh penjuru. Begitu mudahnya komunikasi saat sekarang dengan hadirnya teknologi. Hadirnya teknologi ibarat mata pisau. Bagi yang menggunakan dengan bijak maka akan memperoleh manfaat bahkan keuntungan secara materi ataupun nonmateri. Bagi yang menggunakan dengan “sembrono” maka akan mendapatkan efek buruk bagi pemakainya.

Di era teknologi manusia dalam berkomunikasi  banyak menggunakan media sosial atau sering dikenal dengan medsos. Pengguna medsos lintas usia. Baik tua, muda, anak-anak maupun remaja. Saking seringnya interaksi via media sosial orang yang duduk bersebelahan tidak bertegur sapa. Bahkan dalam keluarga pun demikan kadang kala sibuk dengan gadgetnya. Ironi memang tapi itulah fakta yang terjadi sekarang.

Bagi pengguna medsos selayaknya memanfaatkan media itu untuk hal-hal yang positif seperti bertegur sapa, memberi kabar, sharing ilmu, memberi informasi dan hal-hal baik lainnya. Namun manusia kadang terlena dengan kemudahan dan kecanggihan teknologi sehingga mengabaikan etika dalam berkomunikasi. Ketiadaan batas atau sekat-sekat dalam bermedsos sering kali orang tergelincir dengan jari yang memainkan ketikannya. Penggunaaan media sosial mengantarkan orang masuk dalam dunia maya sehingga komunikasi tak lagi face to face. Tidak ada lagi intonasi, gestur tubuh, pandangan mata sebagaimana komunikasi langsung. Kalaupun ada  bahasa verbal diganti dengan simbol-simbol atau emoticon walaupun tidak sepenuhnya  bisa mewakili perasaan seseorang. Bahasa tulis tidak memiliki intonasi sehingga terkadang berbeda maknanya walaupun dengan ungkapan yang sama. Oleh karena itu pengguna media sosial harus memperhatikan etika dalam berkomunikasi secara tulis.

Tulisan atau bahasa yang digunakan seseorang dapat mewakili cerminan karakter seseorang. Tidak jarang dijumpai postingan-postingan yang diungkapan dengan bahasa yang halus, ramah dan tidak menggurui sehingga banyak yang like kemudian share.. Tetapi tidak sedikit dijumpai postingan-postingan yang disajikan dengan bahasa yang kasar, cacian bahkan ujaran kebencian. Dan inipun banyak juga yang meng-share.  Ini terjadi karena adanya gelombang yang sama antara penyaji postingan dengan penerima postingan. Bagi pengguna medsos yang suka dengan sajian informasi yang intelek dan mendidik biasanya secara spontan akan like dan share. Bagi  pengguna medsos yang senang dengan hal-hal yang mengarah cacian atau kebencian biasanya akan larut dan dengan mudah  membagikan postingan. Di sinilah pentingnya menjadi pengguna medsos yang bijak. Tidak semua informasi langsung diterima dengan “yes” tanpa menelaah secara cermat apakah postingan ini benar atau tidak. Jika memang benar selanjutnya harus berpikir ulang adakah manfaatnya jika dibagikan. Jika hanya informasi yang benar tetapi tidak meikiki nilai manfaat maka tidak selayaknya disebarkan cukup berhenti di gadget kita untuk selanjutnya dihapus. Apalagi yang jelas-jelas mengandung unsur kebencian dan penghasutan tidak selayaknya menjadi dosa jariyah yang sambung menyambung karena kontribusi tangan kita.

Anak-anak atau pelajar adalah masa yang sangat rentan terhadap gempuran informasi.. Usia mereka belum cukup untuk memiliki filter yang kuat. Dunia maya adalah  dunia tanpa batas ibarat hutan belantara. Anak bisa mengakses apa saja bahkan di luar dugaan  orang tua. Orang tua perlu berdialog dengan mereka, apa yang saja yang telah diaksesnya, sesekali mengecek juga chat dengan kawan-kawannya. Beberapa orang tua mungkin tidak paham dengan bahasa yang digunakan anak-anak dalam bermedsos. Dan tidak semuanya harus mengikuti bahasa anak-anak muda dalam bermedsos. Itu dunia mereka. Itu tidak menjadi masalah apabila orang tua terbuka dengan anak dan menjalin komunikasi yang hangat.  Apabila anak diajarkan terbiasa sopan santun dalam bertutur kata maka ia akan merefleksikan bahasa tulis dengan santun. Apabila anak dibiasakan dengan cacian dan makian maka secara terus menerus maka secara spontan dia akan membahasakan cacian itu dalam bermedia sosial. Sepertinya terlihat sepele dan sederhana karena hanya tulisan saja bukan ucapan langsung. Tetapi sejatinya apa yang ditulis itulah refleksi apa yang ada di dalam pikirannya. Tidak hanya para kawula muda, orang dewasa pun melakukan hal tidak jauh beda karenanya belajar itu sepanjang masa. Kebiasaan yang terus menerus dan berulang-ulang lama kelamaan akan menjadi karakter seseorang.

Saat sekarang kita  hidup dan berkomunikasi dengan media sosial maka saat ini juga kita belajar menjadi bijaksana. Tangan yang telah Allah anugerahkan sudah selayaknya digunakan untuk berbagi kebaikan dengan berbagai cara bukan cacian dan makian dalam tulisan.  Tulisan bisa menjadi ladang dakwah bagi para mubaligh tetapi bisa juga menjadi lading maksiat karena bahasa yang dipilih jauh dari etika. Masyarakat yang beradab menjunjung tinggi sopan santun dalam bertutur kata (baik verbal maupun tulisan). Masyarakat bawah mencontoh para pendahulunya atau tokoh panutan dalam kesehariannya. Sebuah peribahasa mengatakan “bahasa menujukkan bangsa” artinya tabiat seseorang dapat dilihat dari tutur kata atau bahasanya. Bijaklah menggunakan bahasa dalam bermedsos.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas