GURU GARDA TERDEPAN AKHLAK BANGSA

Fatimatuz Zahro, S.Ag., M.Pd.I. -Guru MTs N Batam

Persoalan pendidikan selalu menarik untuk dikaji. Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, sejak itulah timbul gagasan untuk melakukan pelestarian dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Pendidikan berkembang dari hal yang sederhana, sampai pada bentuk pendidikan yang sarat dengan metode, materi, evaluasi, tujuan, serta model yang sesuai dengan masyarakat saat ini.
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pendidikan sangat terkait dengan perubahan cara berpikir dan cara pandang dalam hidup dan kehidupan masyarakat, karena proses pendidikan itu sendiri dipandang sangat berkaitan dengan kepentingan manusia dan masyarakat untuk masa kini dan masa yang akan dating tidak terkecuali pendidikan Islam.
Sesuai dengan misi ajaran Islam sebagai rahmatan lil‘âlamîn, maka pendidikan Islam mengidentifikasikan sasarannya pada empat pengembangan fungsi manusia, yaitu menyadarkan manusia sebagai makhluk individu, menyadarkan fungsi manusia sebagai makhluk sosial, menyadarkan manusia sebagai hamba Allah SWT, menyadarkan manusia sebagai khalîfah di muka bumi.
Keempat sasaran pengembangan tersebut semakin lama makin tereduksi oleh arus globalisasi. Hal ini dapat dilihat dari krisis yang terjadi pada masyarakat modern. Krisis tersebut berkaitan erat dengan landasan filosofis dan ideologis mereka yang memisahkan secara ekstrem antara kebenaran dan realitas, antara kebenaran dan prinsip-prinsip. Gejala split personality atau kepribadian terbelah yang semakin terlihat pada masyarakat muslim saat ini mesti dipahami sebagai konsekuensi dari semakin jauhnya pembangunan intelektual dari arahan, binaan serta kontrol nilai moral dan spiritual (Abdurahmansyah: 2005).
Selain fenomena di atas, dunia pendidikan saat ini dihadapkan pada persoalan serius, yaitu semakin dominannya corporate values. Di beberapa institusi pendidikan nilai korporasi telah menjadi core values mengalahkan academic values yang seharusnya selalu menjadi basis institusi pendidikan (Sutrisno: 2009). Jika hal ini berlangsung terus menerus maka pendidikan dibentuk oleh dunia pasar dan pendidikan akan kehilangan ruhnya.
Kondisi yang sama juga dialami bangsa Indonesia pada saat ini. Krisis nilai telah mewarnai kehidupan masyarakat di Indonesia, seperti kasus kekerasan, korupsi, fenomena bunuh diri, pelecehan seksual, maraknya kasus narkoba, dan berakibat semakin merosotnya akhlak di kalangan pelajar.
Menghadapi fenomena di atas, persoalan ini seringkali tuduhan kemerosotan akhlak diarahkan kepada pendidikan dan ini dikatakan penyebabnya. Hal ini dapat dimengerti, karena pendidikan berada dalam garda terdepan bangsa dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, baik secara intelektual maupun moralitasnya. Oleh karena itu hal ini patut menjadi perhatian bersama, terutama pendidik. Karena pendidik adalah orang yang berhubungan langsung dengan peserta didik, maka pembentukan sikap pada peserta didik juga merupakan bagian dari tanggung jawabnya. Untuk menyikapi persoalan tersebut maka pendidik, orang yang berhubungan langsung dengan peserta didik sudah sepatutnya melakukan refleksi diri terhadap apa yang telah dilakukan, apakah proses pendidikan yang dijalankan selama ini ada yang tidak sesuai dengan landasannya.
Pendidik sebagai agen pembelajaran harus tanggap terhadap fenomena tersebut. Tugas dan tanggung jawab semakin menantang pada saat sekarang dan masa mendatang. Karenanya pendidik harus mampu memahami dirinya, kemampuan profesionalnya dan tanggap terhadap situasi lingkungan sosialnya. Agar dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya maka pendidik selain memiliki kemampuan keilmuan yang yang menjadi keahliannya, juga harus memiliki akhlak yang mulia.
Imam Ghazali mendefinisikan akhlak dalam kitabnya Ihya al ‘ulumuddin adalah suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan tanpa dipikirkan atau direncanakan terlebih dahulu. Akhlak terbentuk dari proses pembiasaan yang berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama. Dalam bahasa lain dikatakan sebagai karakter seseorang. Karenanya sebelum guru menjalankan fungsinya membentuk perilaku peseta didik maka terlebih dahulu guru harus memiliki karakter positif yang kuat atau berakhlakul karimah.
Mengapa ini penting, karena pendidik sering berinteraksi dengan peserta didik, menjadi teladan baik perkataan maupun perbuatan. Apalah artinya orang yang memposisikan sebagai guru berdiri di depan kelas “menyampaikan ilmu”, tentang hal baik dan tidak baik, namun di luar kelas justru memperlihatkan fakta yang sebaliknya. Masih ada yang beranggapan pendidik (guru) sebagai sebuah profesi pekerjaan semata, sehingga waktu di luar jam kerja, atribut tersebut menjadi lepas. Akibatnya keteladan yang diberikan guru menjadi semu, peserta didikpun mendapatkan cermin yang semu, akhlak terabaikan
Oleh karena itu perlu ditumbuhkan kembali semangat belajar dengan dihiasi akhlak mulia sebagai cermin pribadi muslim. Ini perlu ditanamkan pendidik sejak dini kepada peserta didik, sehingga nantinya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas akal dan berakhlak mulia. Jika hanya akal yang berkembang, maka akan menjadi pribadi yang sombong dengan mengandalkan kepintarannya, sebaliknya bila hanya akhlak yang dikembangkan menjadi pribadi lemah pikirannya. Kedua-duanya harus dijalankan secara imbang sehingga lahir generasi cerdas akal dan berakhlak mulia.

1 thought on “GURU GARDA TERDEPAN AKHLAK BANGSA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *